Bahaya Tersembunyi di Balik Penggunaan Sinar-X untuk Tindakan Intervensi: 5 Fakta Mengejutkan Risiko Pekerjaan di Radiologi Intervensi

Pencitraan medis menggunakan radiasi pengion, mulai dari Sinar-X hingga computed tomography (CT) scan dan angiografi, adalah mukjizat modern yang memungkinkan dilakukan diagnosis dini dan juga untuk penyelamatan nyawa pasien. Namun, terdapat paradoks kelam yang menghantui penggunaan radiasi ini, yaitu teknologi radiasi yang menyembuhkan pasien ini secara perlahan dapat merusak kesehatan para praktisi yang mengoperasikannya. Sebagaimana diketahui bahwa radiasi pengion, bahkan dalam tingkatan dosis rendah pun dapat memicu kerusakan DNA langsung melalui reaksi oksidatif (interaksi radiasi dengan sel biologis). Misalnya pada penggunaan CT Scan, ada data yang menunjukkan bahwa hingga 2% dari total kasus kanker saat ini dapat dikaitkan dengan paparan radiasi dari CT scan. Di atas 50% dokter kardiologi yang bekerja di cathlab mengalami kekeruhan lensa mata yang mengarah pada katarak.

Hal inilah yang mendorong para pakar untuk vokal dalam menyoroti bahwa risiko di pekerjaan radiologi intervensi ini bukan sekadar statistik medis, melainkan adanya kegagalan sistemik dalam menjaga keselamatan kerja para personel yang bekerja di intervensi yang menggunakan radiasi. Pada perspektif ini, kita ditantang untuk melihat tidak hanya kita bekerja sudah dilindungi oleh alat proteksi tetapi kearah akuntabilitas institusi atau penanggungjawab keselamatan untuk menjamin kesehatan jangka panjang para tenaga medis dan tenaga kesehatan yang terlibat dalam tindakan intervensi dengan radiasi ini.

Berikut ini adalah beberapa hal terkait risiko yang mengancam para pekerja atau personel yang bekerja dengan radiasi pengion di tindakan intervensi:

1. Radiasi mengancam warisan genetik karena sensitivitas DNA Mitokondria

Temuan para pakar yang paling provokatif dan menyentuh inti dari eksistensi manusia adalah adanya warisan genetic akibat radiasi. Fokus utama jatuh pada praktisi yang bekerja di intervensi khususnya adalah tenaga perempuan. Secara biologi perempuan (biologically female), DNA mitokondria memiliki sifat pewarisan maternal yang murni dari ibu ke anak. Hal ini berpotensi menciptakan risiko lintas generasi yang mengerikan bagi ahli intervensi perempuan yang terpapar radiasi setiap hari.

Risiko ini belum banyak yang menyadarinya, yang mana DNA mitokondria itu 10 kali lipat lebih sensitif terhadap radiasi dibandingkan DNA inti, dan itu dapat ditularkan ke lintas generasi. Praktisi medis perempuan berpotensi menularkan mutasi DNA mitokondria tersebut kepada anak-cucunya.

Dunia pendidikan kedokteran konvensional cenderung masih terfokus pada efek somatik langsung, seperti katarak atau dermatitis radiasi, namun mengabaikan mutasi genetik yang dapat diwariskan. Ini bukan lagi sekadar masalah kesehatan perorangan, melainkan ancaman terhadap garis keturunan yang cenderung terabaikan. Maka penting dibuka ruang dialog terbuka baik itu melalui pendidikan dan pelatihan, pertemuan tahunan, seminar, dan lainnya.

2. Racun tak terlihat berupa ancaman debu timbal pada alat pelindung radiasi

Selama puluhan tahun, apron timbal (lead aprons) dianggap sebagai perisai pelindung radiasi yang utama. Namun, dari sebuah penelitian kolaboratif mengungkapkan fakta mencengangkan bahwa sekitar 63% apron timbal yang dipakai di berbagai rumah sakit mengeluarkan debu timbal bebas pada permukaannya.

Ini adalah ancaman ganda, karena para praktisi radiasi tidak hanya berjuang melawan sinar-X, tetapi juga menghadapi risiko keracunan logam berat (timbal). Partikel timbal ini dapat terhirup atau tertelan secara tidak sengaja. Bahkan dalam studi yang telah dilakukan, mendeteksi kadar timbal abnormal pada sampel rambut tenaga medis. Ini sebuah bukti nyata bahwa logam beracun ini telah masuk ke dalam sistem biologis.

Fasilitas pelayanan kesehatan sering kali hanya memantau fungsi radioprotektif dari alat pelindung tersebut, namun abai terhadap kebersihan dan integritas fisiknya. Hal ini bisa jadi karena tidak ada tingkat aman untuk paparan timbal dalam tubuh manusia. Pemeliharaan dengan pembersihan rutin dan protokol penanganan peralatan pelindung radiasi harus menjadi standar wajib yang dilakukan secara periodik, dan bukan hanya sekadar opsi pilihan kalau bisa dilakukan, kalua ada sumber dayanya, dll.

3. Perlunya penciptaan DNA Antioksidan sebagai perisai biologis

Inovasi sering kali lahir dari kejadian-kejadian tak terduga. Cedera radiasi pada dasarnya adalah cedera oksidatif. Jika kita memahami bahwa radiasi menyerang secara biokimia, maka pertahanan kita pun harus bersifat biokimia, dan bukan hanya mengandalkan jarak fisik dan pelindung timbal yang berat (prinsip proteksi radiasi). Hasil studi yang dilakukan di luar negeri ditemukan bahwa dengan membuat formulasi DNA antioksidan ini mampu menghasilkan pengurangan kerusakan rantai DNA hingga 90%. Ini hal yang menarik di masa mendatang.

Gambar ilustrasi perlindungan DNA dari radiasi pengion

 

4. Ada paradoks kerentanan: tenaga intervensi yang muda yang lebih berisiko

Terdapat fenomena biologis yang menarik sekaligus mengkhawatirkan mengenai pengalaman kerja dan daya tahan tubuh. Data menunjukkan bahwa ada peningkatan mekanisme perbaikan DNA pada dokter intervensi yang sudah senior. Tubuh mereka, yang secara bertahun-tahun terpapar radiasi, seolah-olah "belajar" untuk memperbaiki kerusakan DNA dengan lebih cepat.

Sebaliknya, untuk tenaga intervensi yang ;lebih muda, dokter muda atau residen berada dalam posisi paling rentan. Kapasitas perbaikan DNA mereka belum terasah atau berpengalaman, membuat mereka lebih mudah mengalami kerusakan permanen di awal karier mereka. Atas dasar inilah, para pakar menyarankan perlunya skrining genetik sebelum seseorang memilih spesialisasi berisiko tinggi bekerja dengan radiasi di intervensi.

Jika hasil pemeriksaan mengindikasikan individu dengan mutasi p53 (yang bertanggung jawab atas 50% risiko kanker), mutasi BRCA 1/2, sindrom Smith, keturunan Ashkenazi dengan kelainan perbaikan DNA, atau hereditary telangiectasia, seharusnya diarahkan untuk menghindari bidang intervensi radiasi tinggi dan lebih memilih spesialisasi lain seperti biopsi dengan panduan USG atau non-radiasi pengion. Pengabaian terhadap profil genetik ini merupakan sebuah kecerobohan profesional. 

 Gambar ilustrasi debu apron timbal


5. Tanggung jawab dari beban Individu ke akuntabilitas institusi

Argumen yang paling tajam yang muncul dari banyaknya risiko radiasi yang muncul pada para personel intervensi ini adalah adanya ketidakadilan sistemik. Di sektor industri lain, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir atau kapal selam nuklir, keselamatan radiasi adalah tanggung jawab mutlak institusi. Namun di rumah sakit, sering kali terdapat ketidakjelasan keselamatan, yang mana perawat dan teknisi dilindungi oleh aturan ketenagakerjaan rumah sakit, sementara dokter (yang sering kali bukan pegawai tetap) dibiarkan menanggung risikonya sendiri.

Manajemen rumah sakit sering kali berdalih dengan anggaran yang dikeluarkan sangat besar untuk berinvestasi pada teknologi keselamatan modern, seperti sistem ruangan radiasi yang aman atau alat radiasi yang berteknologi canggih sehingga mengeluhkan anggaran untuk alat pe;lindung yang lebih baik (misalnya berbasis non-timbal). Investasi ini memang mahal, berkisar antara 3,5 sampai 6 Milyar untuk pengadaan alat radiasi intervensi.

Ketika rumah sakit mengeluhkan anggaran untuk alat pelindung yang lebih baik, atau rumah sakit tidak memberikan perlindungan yang optimal dan memadai, ini seolah-olah rumah sakit mengatakan kepada para pekerjanya, “Anda boleh terkena radiasi, tapi itu tidak apa-apa”.

Ini yang sering terjadi di fasilitas rumah sakit, adanya kesenjangan. Kesenjangan antara fokus pada pendapatan dengan keselamatan jangka panjang para tenaga kerjanya. Dan jika kesenjangan itu terjadi maka itulah yang disebut dengan telah terjadi kegagalan etis. Perlu diketahui bahwa, tidak ada tingkat paparan yang dianggap aman, karena setiap individu memiliki kemampuan perbaikan DNA yang berbeda-beda. Oleh karena itu, perlu diakhiri adanya institusi fasilitas pelayanan kesehatan yang membebankan keselamatan radiasi pada tingkat individu praktisi.

 Gambar ilustrasi beban keselamatan dipundak praktisi intervensi


Refleksi Masa Depan

Keselamatan kerja di ruang kerja radiologi intervensi memerlukan perubahan perilaku atau budaya yang radikal. Kita harus berhenti bersikap menganggap remeh paparan radiasi. Perlindungan biologis melalui antioksidan, skrining genetik sebelum kerja dengan radiasi (atau memilih spesialisasi), dan tuntutan terhadap infrastruktur sarana dan prasarana yang lebih aman harus menjadi agenda utama dalam keselamatan radiasi di fasilitas.

Sebagai penutup, Apakah sistem kesehatan kita sudah cukup menghargai kesehatan jangka panjang para pahlawan medisnya, ataukah mereka hanyalah biaya operasional yang boleh dikorbankan demi target finansial jangka pendek? Para praktisi medis radiasi mempertaruhkan masa depan genetik mereka setiap kali sinar-X dinyalakan, dan saat ini sudah saatnya fasilitas memberikan perlindungan yang setimpal dan optimal kepada para praktisi medis (tenaga medis dan tenaga kesehatan).

Referensi: https://www.backtable.com/shows/msk/articles/radiation-safety-in-interventional-radiology
LihatTutupKomentar